Jumat, 26 April 2013

MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS IBU HAMIL DENGAN APH ( ANTEPARTUM HEMORAGIK )



MAKALAH KEPERAWATAN MATERNITAS
IBU HAMIL DENGAN APH
( ANTEPARTUM HEMORAGIK )

Di susun oleh :
1.     Ivan Gufron Isnaini       (B11111553)
2.     Hermawan Adhana        (B11111546)
3.     Dani Bayu Raharjo        (B11111533)
4.     Diah Lailawati               (B11111540)
5.     Eva Devianti                  (B11111543)
6.     Dwi Arsita                      (B11111537)
7.     Ika Rosiana N. K. R.      (B11111550)
8.     Wisda Sulistyaningsih    (B11111584)
9.     Lestari                           (B11111554)


Dosen             : Tutik Rahayuningsih, S. Kep. Ns
MK     : Keperawatan Maternitas



PRODI D3 KEPERAWATAN
POLTEKKES BHAKTI MULIA SUKOHARJO
TAHUN AJARAN 2013 / 2014

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
PERDARAHAN ANTEPARTUM HEMORAGIK (APH)

1.      Pengertian
Perdarahan antepartum merupakan pendarahan dari traktus genitalis yang terjadi antara kehamilan minggu ke-28 dan awal partus. Pada satu kehamilan perdarahan  dari traktus genitalis lebih sering dan serius jika terjadi pada tempat plasenta dibandingkan dari sumber lain. Walaupun demikian plasenta menjadi  organ defenitif jauh lebih dini dari kehamilam 28 minggu dan perdarahan dapat terjadi lebih dini .

Meskipun perdarahan sesudah saat ini lebih sering terjadi. Walaupun perdarahan vaginal  setelah minggu ke–29 harus dianggap mempunyai potensi serius . perdarahan pada saat yang lebih dini dapat merupakan indikasi dari dua penyebab utama pedarahan anterpatum yaitu:

1.      Plasenta previa
Pada keaadaan normal . Plasenta berimplantasi atau terletak di bagian fundus uterus. Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutup sebagian atau seluruh  pembukaan jalan lahir
2.      Solutio plasenta

2.      Etiologi

Apa sebab terjadinya implatasi plasenta didaerah segmen bawah uterus tidak dapat dijelaskan. Namun  demikian terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan peningkatan kekerapan  terjadi plasenta previa yaitu  :
1.      Parista
Makin banyak parista ibu, makin besar kemungkinan mengalami plasenta previa.
2.      Usia ibu pada saat hamil. Bila usia ibu pada saat hamil 35 tahun atau lebih, makin besar kemungkinan kehamilan plasenta previa.
3.      Umur dalam paritas
a.   Pada primigravida umur diatas 35 th lebih sering dari umur dibawah 25 th.
b.      Pada paritas tinggi lebih sering dari pada paritas rendah
c.       Di Indonesia plasenta previa banyak dijumpai pada umur paritas kecil disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium belum matang.
4.      Adanya tumor-tumor : mioma uteri, polip endometrium.
5.      Kadang-kadang pada malnutrisi

3.      Klasifikasi
Berdasarkan atas terabaya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu,plasenta previa dibagi dalam 4 klasifikasi yaitu :
1)    Plasenta previa totalis apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta
2)    Plasenta previa parsialis apabila sebagian pembukaan ternutup oleh jaringan plasenta
3)    Plasenta previa marginalis apabila pinggir plasenta berada terpat pada pinggir pembukaan
4)    Plasenta letak rendah apabila tepi plasenta melampau segmen bawah tetapi tepinya tidak mencapai ostium internum.

4.      Manifestasi klinis
a.       Perdarahan yang terjadi bisa sedikit atau banyak. Perdarahan yang terjadi pertama kali, biasanya tidak banyak dan tidak berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari sebelumnya. Perdarahan pertama sering terjadi pada triwulan ketiga.
b.      Pasien yang datang dengan perdarahan karena plasenta previa tidak mengeluh adanya rasa sakit.
c.       Pada uterus tidak teraba keras dan tidak tegang.
d.      Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul dan tidak jarang terjadi letak janin (letak lintang atau letak sunsang)
e.       Janin mungkin masih hidup atau sudah mati, tergantung banyaknya perdarahan. Sebagian besar kasus, janinnya masih hidup.
Gejala utama
Perdarahan yang terjadi berwarna segar, tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama.

5.      Komplikasi
1.      Anemia karena perdarahan
2.      Syok
3.      Janin mati lahir dalam keadaan premature dan asphyxia berat.

6.      Patofisiologi
Perdarahan anterpatum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga kehamilan . Karena pada saat itu segmen bawah uterus lebih banyak mengalami perubahan berkaitan dengan makin tuanya  kehamilan .

Kemungkinan perdarahan anterpatum akibat plasenta previa dapat sejak kehamilan berusia 20 minggu. Pada usia kehamilan ini segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai menipis.

Makin tua usia kehamilan segmen bawah uterus makin melebar dan serviks membuka. Dengan demikian plasenta yang berimplitasi di segmen bawah uterus tersebut akan mengalami pergeseran dari tempat implantasi dan akan menimbulkan perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, bersumber pada sinus uterus yang atau robekan sinis marginali dari plasenta.


7.    Pengkajian
     Adapun data-data yang dikumpulkan yaitu :
a. Identitas umum
b. Riwayat kesehatan
a)      Riwayat kesehatan dahulu
Adanya kemungkinan klien pernah mengalami riwayat diperlukan uterus seperti seksio sasaria curettage yang berulang-ulang.
b)      Kemungkinan klien mengalami penyakit hipertensi DM, Hemofilia serta mengalami penyakit menular seperti hepatitis.
c)      Kemungkinan pernah mengalami abortus

a)                   Riwayat kesehatan sekarang
a)      Biasanya terjadi perdarahan tanpa alas an
b)      Perdarahan tanpa rasa nyeri
c)      Perdarahan biasanya terjadi sejak triwulan ketiga atau sejak kehamilan 20 minggu.

b)                  Riwayat kesehatan keluarga
a)      Kemungkinan keluarga pernah mengalami kesulitan kehamilan lainnya.
b)      Kemungkinan ada keluarga yang menderita seperti ini
c)      Kemungkinan keluarga pernah mengalami kehamilan ganda.
d)     Kemungkinan keluarga menderita penyakit hipertensi DM, Hemofilia dan penyakit menular.

c)                   Riwayar Obstetri
Riwayat Haid/Menstruasi
a)              Minarche         : 12 th
b)              Siklus               : 28 hari
c)               Lamanya        : ± 7 hari
d)             Baunya            : amis
e)              Keluhan pada haid  : tidak ada keluhan nyeri haid
d)                  Riwayat kehamilan dan persalinan
1)              Multigravida
2)              Kemungkinan abortus
3)              Kemungkinan pernah melakukan curettage
e)                   Riwayat nipas
1)      Lochea Rubra
2)      Bagaimana baunya, amis
3)      Banyaknya 2 kali ganti duk besar
4)      Tentang laktasi
5)      Colostrum ada
f)                    Pemeriksaan tanda-tanda vital
1)      Suhu tubuh, suhu akan meningkat jika terjadi infeksi
2)      Tekanan darah, akan menurun jika ditemui adanya tanda syok
3)      Pernapasan, nafas jika kebutuhan akan oksigen terpenuhi
4)      Nadi, nadi melemah jika ditemui tanda-tanda shok
g)                  Pemeriksaan fisik
1)                  Kepala, seperti warna, keadaan dan kebersihan
2)                  Muka, biasanya terdapat cloasmagrafidarum, muka kelihatan pucat.
3)                  Mata biasanya konjugtiva anemis
4)                  Thorak, biasanya bunyi nafas vesikuler, jenis pernapasan thoracoabdominal
5)                  Abdomen
a.       Inspeksi : terdapat strie gravidarum
b.      Palpasi   :
                                                                              I.            Leopold I         : Janin sering belum cukup bulan,jadi fundus uteri masih rendah
                                                                           II.            Leopold II    :  Sering dijumpai kesalahan letak
                                                                        III.            Leopold III : Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya kepala masih goyang atau terapung(floating) atau mengolak diatas pintu atas panggul.
                                                                        IV.            Leopold IV   : Kepala janin belum masuk pintu atas panggul
c.       Perkusi  : Reflek lutut +/+
d.      Auskultasi : bunyi jantung janin bisa cepat lambat. Normal 120.160
                                                                                i.            Genetalia biasanya pada vagina keluar dasar berwarna merah muda
                                                                              ii.            Ekstremitas. Kemungkinan udema atau varies. Kemungkinan akral dingin.
h)      Pemeriksaan penunjang
1.      Data laboraturium, memungkinkan Hb rendah.
2.      Hb yang normal (12-14gr%)
3.      leokosit meningkat (Normal 6000-1000 mm3).
4.      Trombosit menurun (normal 250
ribu – 500 ribu).

8.      Diagnosa Keperawatan
Dari pengkajian yang telah diuraikan diatas dapat disusun beberapa diagnosa keperawatan yang memungkinkan ditemukan pada klien HAP atas indikasi plasenta precia antara lain :
1.      Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim ( Susan Martin Tucker,dkk 1988:523)
2.      Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan ketidak mampuan merawat diri. Sekunder keharusan bedrest (Linda Jual Carpenito edisio :326)
3.      Resiko rawat janin : fital distress berhubungan dengan tidak ada kuatnya perfusi darah ke plasenta (Lynda Jual Carpenito,2000: 1127) post seksio.
4.      Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot perut (Susan Martin Tucker,dkk 1988 : 624).
5.      Intolerasi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Barbara Enggram :1998:371)
6.      Resiko infeksi berhubungan dengan terbukanya tempat masuknya mikro organisme sekunder terhadap luka operasi sesarea.
7.      Kecemasan berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang perawatan dan pengobatan (Susan Martin Tucker,dkk 1988).

9.    Intervensi Keperawatan
1.      DX I
Resiko perdarahan berulang berhubungan dengan efek penanaman plasenta pada segmen bawah rahim
Tujuan :
Klien tidak mengalami perdarahan berulang
Intervensi :
1.        Anjurkan klien untuk membatasi perserakan
Rasional : Pergerakan yang banyak dapat mempermudah pelepasan plasenta sehingga dapat terjadi perdarahan

2.        Kontrol tanda-tanda vital (TD, Nadi, Pernafasan, suhu)
Rasional : Dengan mengukur tanda-tanda vital dapat diketahui secara dini kemunduran atau kemajuan keadaan klien.
3.        Kontrol perdarahan pervaginam
Rasional : Dengan mengontrol perdarahan dapat diketahui perubahan perfusi jaringan pada plasenta sehingga dapat melakukan tindakan segera.
4.        Anjurakan klien untuk melaporkan segera bila ada tanda-tanda perdarahan lebih banyak
Rasional : Pelaporan tanda perdarahan dengan cepat dapat membantu dalam melakukan tindakan segera dalam mengatasi keadaan klien.
5.        Monitor bunyi jantung janin
Rasional  : Denyut jantung lebih >160 serta< 100dapat menunjukkan gawat janin kemungkinan terjadi gangguan perfusi pada plasenta
6.        Kolaborasi dengan tim medis untuk mengakhiri kehamilan
Rasional : Dengan mengakhiri kehamilan dapat mengatasi perdarahan secara dini.

2.      DX II        
Gangguan pemenuhan ketuban sehari-hariberhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri sekunder keharusan bedres
Tujuan :
Pemenuhan kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi
Intervensi :
1.        Bina hubungan saling percaya antara perawat dengan klien dengan menggunakan komunikasi therapeutic
Rasional : Dengan melakukan komunikasi therapeutic diharapkan klien kooperatif dalam melakukan asuhan keperawatan.
2.        Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasar
Rasional dengan membantu kebutuhan klien seperti mandi, BAB,BAK,sehingga kebutuhan klien terpenuhi
3.        Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan
Rasional : Dengan melibatkan keluarga, klien merasa tenang karena dilakukan oleh keluarga sendiri dan klien merasa diperhatikan.
4.        Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan klien
Rasional :    Dengan mendekatkan alat-alat kesisi klien dengan mudah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri.
5.        Anjurkan klien untuk memberi tahu perawat untuk memberikan bantuan
Rasional :    Dengan memberi tahu perawat sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi.

DAFTAR PUSTAKA
Varney, Helen., Kriebs, Jan M., Gegor, Carolyn L.( 2003). Buku-Ajar ASUHAN KEBIDANAN. (Vol 1 Edisi 4 ). Penerbit Buku Kebidanan. Jakarta
www.hemoragic-antepartum.com